Tuesday, January 11, 2011

Elfa Secioria Telah Berpulang (1959 -2011)

Seorang pengharum nama bangsa di berbagai kompetisi musik tingkat dunia.
Oleh : Denny Sakrie
Sekitar pukul 17:26 WIB saya mendapat kabar pemusik berbakat Elfa Secioria telah meninggal dunia. Elfa menghembuskan nafas terakhir setengah jam sebelumnya pada hari Sabtu (8/1) di Rumah Sakit Pertamina, Cempaka Putih, Jakarta. Sebelumnya ia dirawat di sana karena menderita sakit. Namun hingga berita ini diturunkan belum diketahui penyakit beliau.

Elfa Secioria dilahirkan di Garut, Jawa Barat, pada 20 Februari 1959. Dia berasal dari keluarga yang mencintai dunia musik. Ayahnya, Hasbullah Ridwan seorang polisi militer yang aktif bermain musik, mampu bermain bass dan saxophone serta dikenal sebagai konduktor dan pemain jazz.  Elfa yang tergila-gila dengan Cal Tjader menempuh pendidikan mulai SD hingga SMA di Bandung. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan masuk ke Akademi Teknologi Nasional di Bandung hingga tingkat II di tahun 1980. Belakangan ternyata Elfa lebih menekuni musik dibanding disiplin ilmu yang ditekuninya.

Elfa kecil mulai bermain piano ketika berusia lima tahun. Saat menginjak delapan tahun ia  belajar bermain piano dan vibraphone bersama Trio Jazz IVADE. Kemudian Elfa Secioria mengikuti les piano privat 1 dan 2 di Bandung (1970 - 1974), mempelajari musik Simfoni di Bandung (1971 - 1978) dan belajar Aransemen Orkestra di Bandung (1974 - 1978).
Di tahun 1975 Harry Roesli mengajak Elfa bergabung dalam Gang of Harry Roesli yang memainkan musik rock jazz berpadu etnik Jawa Barat. Elfa juga sempat mendukung album Titik Api di tahun 1976 yang dirilis oleh majalah Aktuil di Bandung

Untuk musik Elfa memperoleh bimbingan teori dan sejarah musik, komposisi serta karakter instrumen dari  F.A. Warsono, pimpinan Orkes Simfoni Angkatan Darat Bandung. Elfa pernah manggung dengan mata tertutup saat berusia 11 tahun dan membentuk kelompok vokal pada saat berusia 19 tahun.

Pada ASEAN Song Festival di Bangkok tahun 1982, Elfa memboyong penghargaan sebagai Pengaransir Terbaik. Di tahun 1984, pada acara yang sama di Manila, Filipina, Elfa kembali meraih penghargaan untuk The Best Arranger dan The Best Song.

Pada Golden Kite Festival di Malaysia tahun 1984, Elfa mendapat penghargaan sebagai The Best Performer dengan lagu "Kugapai Hari Esok" yang dinyanyikan oleh Harvey Malaiholo. Selama kariernya, Elfa sudah 14 kali menjadi pengaransir orkes Telerama pimpinan Isbandi dan juga untuk Chandra Kirana pimpinan Diah Iskandar di TVRI.

Pengalaman berkesan buat Elfa ketika ia menjadi konduktor pada orkes simfoni Yamaha di Budokan Hall, Tokyo saat berlangsung acara World Popular Song Festival pada tahun 1982. Pengalaman lain yang tak bisa dilupakan Elfa adalah sewaktu ia harus menyelesaikan 17 aransemen musik selama tujuh jam di dalam pesawat pada tahun 1983. Elfa Secioria dengan Elfa’s Choir-nya  juga termasuk pelanggan juara Olimpiade paduan suara sedunia.

Elfa Secioria juga dikenal sebagai pendiri grup musik Elfa's Singer yang kini telah merilis tujuh album studio. Album yang ketujuh bertajuk Elfa's Singers dibuat dalam rangka 30 tahun eksistensi mereka di musik Indonesia pada tahun 2008.
Masih banyak prestasi Elfa Secioria yang belum terpaparkan disini. Sepatutnya kita merasa kehilangan seorang pemusik terbaik Indonesia yang memiliki banyak prestasi. Selamat jalan bang Eel!
(sumber : http://www.rollingstone.co.id )

No comments:

Post a Comment