Tuesday, January 11, 2011

Menebar Armada Racun

Setelah empat tahun eksis Armada Racun mengeluarkan album debut red, rock, poison bertitel La Peste.
Oleh : Ardi Wilda
Sekitar pukul 10 malam Armada Racun menerima Rolling Stone Indonesia di sebuah kafe berkonsep backpacker di Utara Yogyakarta. Freddy Hadiyanto (vokal-bass), Fuad Danar “Dani” Sucipto (rhythm bass) bersama sang manajer dan additional drummer mereka menjawab beberapa pertanyaan ditemani oleh es susu coklat dan nasi goreng telur yang dimakan bersama.
Di tengah-tengah wawancara sesekali Freddy memainkan lagu-lagu lawas milik Green Day dengan gitar akustiknya. Sayang malam itu Nadya Hatta (keyboards) tak bisa datang karena dikejar deadline skripsi oleh dosennya.
Armada Racun adalah band asal Yogyakarta yang terbentuk empat tahun lalu dengan mengusung konsep musik yang mereka sebut sebagai  “red, rock and poison”. Butuh empat tahun bagi mereka untuk merilis full album bertitel La Peste (Lil'Fish Records/demajors) yang penuh dengan kritik sosial dan kekesalan terhadap kondisi negeri ini. La Peste sendiri diambil dari nama wabah penyakit pes di Prancis pada tahun 588 Masehi. Wabah dari tikus ini menyebabkan hampir 25 juta warga Eropa meninggal dunia. Armada Racun menganalogikan musik mereka sebagai tikus-tikus yang siap menyebarkan wabahnya ke telinga para pendengarnya.
Malam itu Armada Racun bercerita banyak soal album La Peste, sikap mereka terhadap pengaruh budaya asing di negeri ini, dan pendapat mereka tentang band Armada tanpa embel-embel Racun di belakangnya.

Musik Armada Racun kerap diistilahkan dengan “red, rock, and poison,” apa maksudnya?
Dani (D): Ya, kalo Red karena merah identik dengan marah, semacam metafor diri dari keberanian. Rocknya ya lebih ke soul kami yang memang rock, dan poison ya harafiahlah artinya racun, karena kami Armada Racun.
Freddy (F): Pada dasarnya kami sangat bingung dengan pengkotak-kotakkan yang terjadi pada musik kami. Misalnya beberapa orang mendengar lagu “Drakula” dibilang kami mengusung new wave. Kemudian mendengar “Lalat Betina” sering disebut dengan post-punk. Sebenarnya kami ingin melabelkan diri dengan “red, rock and poison” itu. Artinya frame yang kami bawa, seperti merah liriknya, rock musiknya dan poison ya karena kami Armada Racun. Jadi semacam pendefinisian atas apa yang kami buat.

Setelah empat tahun bermusik mengapa Armada Racun baru meluncurkan full album di tahun ini?
F: Kami sempat mengeluarkan EP La Peste yang tidak dijual di Indonesia melainkan di Prancis. Bedanya saat itu hanya enam lagu yang dirilis sementara La Peste yang saat ini kami rilis kan ada 11 lagu. Ternyata hasil penjualan La Peste di Prancis baik dan sampai sold out, kemudian uang dari situ buat rekaman lagi (Tertawa). Sebelum full album ini lagu kami juga ada di kompilasi Jogja Local Heroes dan Music Beyond No Borders yang dirilis Yes No Wave.

Secara musik dan misi ada perbedaan antara EP La Peste di Prancis dengan full album La Peste yang dirilis di Indonesia?
F: Jelas ada beberapa lagu tambahan baru di full album ini, selain itu juga ada tambahan instrumen gitar di lagu “Train Song” di La Peste yang sekarang. Kalau secara misi sebenarnya sama saja, tidak banyak yang berubah. Kami banyak menulis tentang politik, keadaan sosial yang terjadi dan tentang keseharian. Itu memang frame yang kami jaga dari Armada Racun.

Judul album La Peste diambil dari filosofi wabah pes di Prancis, dimana Armada Racun katanya akan meracuni pendengarnya, mengapa begitu?
F: Yang jelas racun disini dalam tanda kutip, meracuni pendengar semacam “memutilasi” telinga itu semacam kami menawarkan satu konsep musik yang berbeda dengan dua bass dan satu keyboards yang jelas sangat baru di Indonesia. Juga yang menarik bagi kami bagaimana masyarakat dan audience bisa atau tidak menerima musik kami.

Album ini sering disebut sebagai bentuk kemarahan Armada Racun, marah kepada siapa sebenarnya?
F: Sebenarnya nggak marah.
D: Menyentil mungkin iya
F: Mencari titik seimbang aja sebenarnya. Dimana keadaan yang seharusnya seperti itu ya harus dinyanyikan, disuarakan lah. Saya sebenarnya tidak merujuk ke kata marah, lebih ke geli melihat sesuatu yang nggak seimbang aja.

Atau album ini semacam bentuk frustasi pada negeri ini?
F: Saya pikir Indonesia belum terlalu frustasi. Orang Indonesia nggak akan pernah frustasi kok, senang-senang terus (Tertawa).
D: Aku pikir ini memang problem dunia ketiga. Nggak hanya di Indonesia, mungkin ya memang problem dunia ketiga seperti ini. Jadi bisa dibilang nggak frustasi juga. 

Armada Racun lebih dikenal lewat Lagu “Amerika” dan “Tuan Rumah Tanpa Tanah”, kenapa justru Lagu “Mati Gaya” yang dipilih sebagai single?
F: Karena memang lagu itu lebih catchy (Tertawa).
D: Ya, itu industri ya, kadang kami juga harus kompromi. Tapi nggak musti ngebunuh karakter kami juga. Karena liriknya “Mati Gaya” juga bentuk kritik sesuai frame kami.

Armada Racun lewat lagu “Amerika” banyak mengkritik soal Indonesia yang terlalu Amerika, Armada Racun benci Amerika atau masyarakat kita yang terlalu gagap?
D: Armada racun sendiri sebenarnya Amerika (Tertawa). Liat aja peralatan bandnya dari sana semua.
F: Sebenarnya kata Amerika saya pilih sebagai satu kata untuk mewakili kapitalisme yang besar. Kita tahu ada banyak perusahaan Amerika di sini. Tapi sengaja saya pilih kata Amerika buat mewakili itu, saya nggak benci Amerika. Saya main musik peralatan musik juga Amerika, kita secara nggak sadar hidup disitu, kita hidup dalam sistem itu tanpa dasar, makanya saya masukin unsur Sumpah Pemuda di lirik lagu itu. Kita menjadi satu bagian yang terlibat dengan Amerika tanpa nggak sadar. Bukan berarti misalnya kamu mengonsumsi barang Amerika berarti salah, nggak gitu. Lah, sekarang saya juga di interview sama Rolling Stone, Amerika juga berarti kan? (Tertawa).

Di lagu “Tuan Rumah Tanpa Tanah” kenapa Tanah diangkat sebagai isu yang sangat penting dalam negara bagi Armada Racun?
F: Tanah itu merupakan hal paling penting, itu seperti status dalam setiap manusia, jika kita nggak punya tanah status kemanusiaan kita sudah berkurang. Tanah itu juga jadi satu hal yang bisa dikembangkan, buat rumah, berkeluarga, punya anak, berkebun. Nah, permasalahannya sekarang misalnya di Jakarta, orang Betawi terpinggirkan, akhirnya mereka menjadi kaum yang nggak kuat karena nggak punya tanah. Dan itu terjadi di semua wilayah kita, bahkan air juga mulai dikuasai perusahaan asing. Pertanyaannya kemudian apa yang terjadi kalau kita nggak punya tanah? Itu seperti orang Indonesia yang nggak bisa nikmatin Indonesia.
D: Gimana mau nasionalis kalau kita nggak punya tanah?

Dari lagu “Amerika” dan “Tuan Rumah Tanpa Tanah”, rasanya Armada Racun benci campur tangan asing, benar begitu?
F: Sebenarnya kami nggak benci, cuma mengalami ketakutan jika itu sampai nggak terkendali. Artinya kami akan menjadi orang Indonesia yang setengah aja, jadi aktor kedua di negeri sendiri.

Di album ini Armada Racun terus mengkritik negara, sebenarnya negara yang diinginkan Armada Racun seperti apa?
F: Kalo saya berandai-andai sebenarnya yang paling cocok buat Indonesia itu komunis (Tertawa). Contohnya ya, misalnya kita lagi makan nasi goreng bareng, ronda juga, misalnya kalo nggak ronda bisa dikucilkan warga.
D: Emang budaya kita udah merujuk ke situ sebenarnya.
F: Mentalitas kita emang udah kesana sebenarnya, kendurian misalnya, gotong royong, pokoknya yang sifatnya komunal semua. Kita juga nggak punya tradisi demokrasi sebenarnya.
D: Dulu kan kita bentuknya kerajaan, bukan demokrasi.

Ke depannya masih yakin tetap dengan dua bass dan satu keyboard tanpa ada instrumen gitar?
F: Ke depannya tetaplah dengan dua bass, tanpa gitar. Kalau emang ada kebutuhan aja kaya “Train Song” di album ini kan ada instrumen gitar.
D: Kalau Ucok AKA dikenal sebagai Duo Kribo, Armada Racun dikenal dengan duo bass (Tertawa).
F: Kapan-kapan sih pinginnya bikin lagu acapella, beneran kayaknya, itu asyik lho (Tertawa).
Saat membeli album Armada Racun saya dan beberapa rekan malah disodori album Armada di toko CD, kalian benci diasosiasikan dengan  Armada?
F: Sebenarnya nggak benci sih, kami punya racun kok, sementara mereka nggak. Dengan racun yang kami punya kami bisa bunuh mereka (Tertawa).
( sumber : http://www.rollingstone.co.id )

No comments:

Post a Comment